Info Kesehatan

10 Kiat Hilangkan Tegang pada Mata

Penggunaan komputer dalam jangka waktu panjang tidak hanya membuat kaku dan tegang otot-otot tubuh, seperti bahu, punggung, dan tangan, tetapi juga mata. Kondisi tersebut bahkan dapat diikuti dengan mata merah, lelah, penglihatan yang kabur, dan kedutan. Nah, untuk menghindarinya, Anda bisa mengikuti 10 kiat berikut.


1. Istirahatkan mata sejenak
Menatap layar komputer dalam waktu lama dapat membuat mata tegang. Karena itu, berilah kesempatan bagi mata untuk beristirahat sejenak setiap jangka waktu tertentu. Lihatlah obyek yang jauh selama beberapa detik dan pergilah untuk berjalan-jalan.

2. Kedipkan mata lebih sering
Mengedipkan mata secara teratur merupakan cara yang paling sederhana untuk menjaga mata tetap segar dan terbebas dari risiko mata tegang. Pengguna komputer sebaiknya perlu mengedipkan mata setiap tiga hingga empat detik sekali.

3. Buatlah ruang kerja senyaman mungkin
Ruang kerja yang nyaman akan membuat mata lebih rileks. Misalnya, buat posisi duduk senyaman mungkin dengan tidak duduk di depan pendingin ruangan yang membuat mata cenderung cepat kering.

4. Lindungi dari sinar matahari
Jika perlu pergi ke luar ruangan, maka pastikan Anda menggunakan perlengkapan yang dapat melindungi mata dari sinar ultraviolet. Menurut guru besar kesehatan mata sekaligus Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Nila F Moeloek, penggunaan kacamata hitam dan topi dapat menjaga mata dari efek negatif sinar UV.  "Melindungi mata dari sinar UV juga dapat mencegah penyakit-penyakit mata seperti katarak," ujarnya.

5. Rileksasi mata
Rileksasikan otot mata dengan menggosok-gosokan telapak tangan yang membuatnya panas, kemudian letakkan pada mata selama beberapa detik. Lakukan pengulangan beberapa kali untuk menjaga mata tetap rileks.

6. Gunakan kacamata pelindung
Cara lain untuk menghindari tegang dari penggunaan komputer adalah dengan memakai kacamata pelindung. Kacamata ini bisa mereduksi efek cahaya dari layar yang diteruskan ke mata.

7. Pijat
Sebelum pergi tidur, pijatlah kelopak mata dan otot mata dengan lembut dengan jari selama dua menit. Hal ini dapat memperbaiki sirkulasi darah ke mata yang membuatnya rileks.

8. Atur pencahayaan layar komputer
Pencahayaan dan kontras layar komputer yang tepat akan mengurangi risiko mata tegang karena membuat mata Anda lebih nyaman menatap layar.

9. Periksa mata
Meski memiliki penglihatan yang baik dan tidak ada masalah ketika membaca, pemeriksaan mata rutin tetap wajib hukumnya. Menurut dr Elvioza, SpM, dokter mata dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), masalah-masalah pada mata termasuk kebutaan dapat dicegah dengan memeriksakan secara teratur enam bulan atau satu tahun sekali.

"Pemeriksaan bahkan perlu dimulai sebelum ada masalah yang dirasakan pada mata," kata dia.

10. Tidur cukup
Yang terakhir, mata Anda butuh istirahat. Maka pastikan Anda tidur dengan cukup setiap harinya. Dr Michael F Roizen dalam bukunya  An Insider's Guide to the Body That Will Make You Healthier and Younger mengatakan, seperti Anda ketahui, tidur dapat memulihkan seluruh sistem pada tubuh termasuk mata.

"Tidur dapat membantu membran retina, memulihkan diri sejenak dari tugas yang melelahkan. Untuk membantu mengembalikan kinerja mata, Anda membutuhkan minimal lima jam untuk tidur,"

Sumber  : KOMPAS.com

Bahaya Sembarangan Pakai Tetes Mata

Saat mata terkena polutan yang membuat iritasi, seperti kemerahan dan gatal, tak sedikit orang yang berusaha mengobatinya sendiri. 

Upaya pengobatan salah satunya dengan menggunakan obat-obat tetes mata yang dijual bebas.
Hanya saja, menurut pakar kesehatan mata dari Jakarta Eye Center dr Johan A Hatauruk, SpM, upaya pengobatan sendiri permasalahan mata memiliki risiko yang tidak kecil. Terlebih jika upaya tersebut melibatkan obat tetes mata yang mengandung sterol.

"Saat terkena polutan, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme sendiri untuk melawan infeksi, sehingga dapat mengurangi iritasi yang terjadi. Tidak perlu menggunakan tetes mata sterol, tetes mata air buatan saja sudah cukup," paparnya dalam seminar media SOHO #BetterU bertajuk "Hari Penglihatan Sedunia", Rabu (9/10/2013) di Jakarta.
Tetes mata yang mengandung sterol, kata Johan, perlu melalui resep dokter, meskipun ada pula yang masih dijual bebas. Sterol merupakan senyawa mengandung antibiotik dan steroid.
Antibiotik dalam sterol berfungsi untuk melawan infeksi bakteri. Sementara steroid berfungsi untuk mengurangi gejala iritasi seperti mata merah.

Kendati demikian, menurut Johan, tidak semua iritasi mata cocok dengan penggunaan tetes mata sterol. "Ya kalau iritasinya karena bakteri, cocok diberi antibiotik. Kalau iritasinya karena jamur atau virus, bisa-bisa malah bertambah subur karena antibiotik bisa jadi makanannya," jelasnya.
Steroid pada obat tetes mata tersebut juga memperbesar risiko meningkatnya tekanan pada mata. Johan mengatakan, steroid memang dapat menekan peradangan, namun juga dapat meningkatkan tekanan yang artinya memicu penyakit mata yang lain seperti glaukoma. Jika dibiarkan bahkan dapat berujung pada kebutaan.

Oleh karena itu, Johan mengimbau agar penderita perlu mengindentifikasi penyebab iritasi pada mata. Biasanya, jika mata merah disertai dengan penglihatan yang memburam, iritasi disebabkan oleh infeksi jamur.
Selain itu, lanjut dia, agar mengurangi risiko mengobati sendiri untuk iritasi mata, sebaiknya penderita memeriksakan diri ke dokter. Ini karena mata merupakan organ yang penting dan gangguan penglihatan akan sangat mengurangi kualitas hidup penderitanya.

 Sumber  : KOMPAS.com

Kebiasaan Minum Soda Picu Sakit Ginjal

Mengonsumsi minuman bersoda berlebihan diketahui dapat memicu banyak penyakit, seperti obesitas dan penyakit jantung. Satu lagi alasan kenapa Anda harus membatasi mengonsumsi minuman manis yang satu ini, yaitu demi menjaga kesehatan ginjal Anda.

Baru-baru ini, sebuah studi menemukan, kebiasaan menenggak minuman bersoda akan meningkatkan risiko penyakit ginjal. Para pegawai di sebuah universitas di Jepang yang mengonsumsi dua gelas minuman bersoda dalam sehari cenderung untuk memiliki protein pada urinenya dibandingkan mereka yang minum lebih sedikit soda atau tidak minum sama sekali. Protein dalam urine merupakan gejala awal kerusakan ginjal meski masih dapat diperbaiki.

Studi baru tersebut menunjukkan keterkaitan antara minum minuman bersoda dan peningkatan risiko kerusakan ginjal. Kendati demikian, para peneliti tidak hanya menjadikan minuman bersoda sebagai satu-satunya "kambing hitam".

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data pada lebih dari 12.000 pegawai universitas yang melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan di pusat kesehatan. Salah satu jenis pemeriksaannya ialah kandungan protein dalam urine.

Mereka menemukan, hampir 11 persen dari pegawai yang mengaku mengonsumsi dua kaleng atau lebih minuman bersoda per hari memiliki protein pada urinenya. Sebaliknya, 8,4 persen yang tidak minum soda dan 9 persen yang minum satu gelas soda dalam sehari tidak memilikinya.

Studi lainnya yang berkaitan menemukan, mengonsumsi minuman gula jenis fruktosa dapat meningkatkan sensitivitas ginjal terhadap protein yang meregulasi keseimbangan garam.

Menurut para peneliti asal Case Westerm Reserve University, hal tersebut kemudian memicu reabsorbi garam dari sel-sel pada ginjal. Itulah yang menjelaskan mengonsumsi minuman soda memiliki kaitan pada penyakit diabetes, obesitas, gagal ginjal, dan tekanan darah tinggi.

Peneliti studi Dr Orlando Gutierrez, spesialis ginjal dari University of Alabama, mengatakan, protein pada urine bahkan tak hanya menjadi tanda dari penyakit ginjal. Hal itu, kata dia, bisa juga menjadi tanda awal dari penyakit jantung, stroke, dan gagal jantung.

Lebih lanjut Gutierrez mengatakan, minuman bersoda mengandung pemanis buatan berjenis sirup jagung tinggi fruktosa. Padahal, pemanis jenis itu tidak dapat dikenali oleh otak sebagai penyebab rasa kenyang. "Oleh karenanya, fruktosa dapat menyebabkan kerusakan metabolisme dengan jalur yang berbeda dengan glukosa. Tidak meningkatkan kadar gula darah, tetapi merusak ginjal," 


 Sumber  : KOMPAS.com


Vitamin C Dosis Tinggi Picu Risiko Kanker?

Konsumsi suplemen vitamin dalam bentuk makanan atau pil selama ini dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Tidak heran bila sebagian orang mengkonsumsi banyak suplemen dengan harapan tubuhnya tetap sehat. 

Namun anggapan bahwa banyak mengonsumsi suplemen akan memberi lebih banyak keuntungan tampaknya harus dibuang jauh. Riset membuktikan, pria yang mengkonsumsi lebih banyak suplemen vitamin C dosis tinggi berisiko lebih besar menderita kanker prostat. Peningkatan risiko ini kata peneliti berkisar hingga 30 persen.

Temuan para ilmuwan dari Harvard School of Public Health, Boston, US dan University of Oslo Norwegia ini bukan yang pertama memperingatkan risiko mengkonsumsi vitamin berlebihan.  Peneliti menghubungkan dosis tinggi vitamin C dengan peningkatan risiko kematian dan kanker prostat.

Riset ini juga melibatkan 48 ribu pria berusia 40-75 tahun selama 1986 hingga 2008. Setiap 4 tahun, seorang responden menyelesaikan kuesioner yang didesain untuk merekam kebiasaan makan mereka. Peneliti mengikuti mereka untuk melihat mana yang lebih berpeluang mengalami kanker prostat.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal Of Cancer itu menunjukkan, asupan antioksidan dari makanan atau pil, tidak menurunkan atau meningkatkan risiko terkena tumor. Antioksidan dapat melawan proses terjadinya tumor yang disebut oksidasi. Proses inilah yang menghancurkan sel tumor.

Hal penting yang menjadi catatan, pria yang mengkonsumsi paling banyak antioksidan dari pil vitamin berisiko 28 persen lebih tinggi terkena kanker prostat dibanding yang mengkonsumsi sedikit suplemen atau tidak sama sekali.

Mereka yang minum suplemen vitamin paling banyak juga berisiko sekitar 15 persen lebih tinggi mengidap kanker prostat  stadium lanjut. Tumor ini bisa cepat menyebar ke organ lain dan mengurangi kesempatan hidup penderitanya.
Menurut peneliti, riset ini menegaskan bahwa asupan antioksidan dalam jumlah tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kanker prostat yang mematikan dan cepat menyebar.

“Kontributor utamanya adalah vitamin C. Temuan ini menjadi acuan penelitian selanjutnya,” kata mereka.
Namun peneliti menyatakan, sampai riset lainnya dilakukan mereka tidak yakin apakah suplemen vitamin benar-benar memicu kanker.
Dr Carrie Ruxton dari Health Supplements Information Service di Inggris menyatakan pendapat berbeda. Menurutnya, sangat mungkin pria mengalami gejala terkair kanker prostat atau rasa lemah jauh sebelum didiagnosa.

“Kanker tidak ada hubungannya dengan konsumsi suplemen,” ujarnya.
Konsumsi vitamin dosis tinggi belakangan ini sedang populer. Toko penjual suplemen dapat menjual tablet vitamin C  berdosis 1.000 miligram. Padahal tubuh hanya perlu 40 miligram supaya cepat sembuh dan tetap sehat.

 Sumber  : KOMPAS.com


0 komentar:

Posting Komentar